Minggu, 31 Oktober 2010

Pertobatan: Pintu menuju sukacita

Yohanes 15: 1 - 17

Seorang pemuda yang bekerja di sebuah toko besar

memutuskan untuk pindah ke luar kota karena perbuatan

buruknya mulai tercium oleh beberapa staf yang bekerja

disana. Ia sering sekali mencuri beberapa barang yang

terluput dari perhatian para penjaga. Sebelum ia

dipanggil oleh pemilik toko dan harus

mempertanggungjawabkan perbuatannya, ia lari ke luar

kota dan mencari pekerjaan yang baru disana. Ia

mendapatkan sebuah pekerjaan di restoran. Tiga bulan

lamanya, ia bekerja dengan baik. Pengalaman mencuri

yang membuat ia harus melepaskan pekerjaannya membuat

ia tidak lagi mengulanginya. Ia menguatkan hati untuk

memulai kehidupan yang lebih baik di kota itu. Suatu

ketika, saat ia sedang melayani tamu-tamu restoran, ia

melihat bahwa salah satu tamu yang datang adalah sang

pemilik toko dimana ia pernah bekerja. Segera saja

pemuda ini lari ke belakang restoran supaya tamu yang

baru saja datang itu tak melihatnya. Saat itu restoran

sedang sangat ramai dan semua pekerja sangat sibuk.

Melihat pemuda itu di belakang, salah seorang koki

memintanya untuk mengantarkan makanan untuk tamu-tamu

di depan. Pemuda ini tidak berani keluar. Ia membuat

jengkel para koki karena ia tidak mau mengantarkan

makanan ke meja tamu. Dua jam lamanya ia bersembunyi

dari keramaian. Setelah ia pikir pemilik toko dimana

ia pernah bekerja itu sudah pulang, ia kembali

melakukan aktivitasnya seperti biasa. Pekerjaannya

menjadi tidak beres pada hari itu. Ternyata hari

berikutnya, pemilik toko tempat ia bekerja dahulu itu

datang lagi dan menemui pemilik restoran. Pemuda ini

berpikir, "Jangan-jangan ia datang untuk bertanya

tentang diriku..." Pemuda ini kembali dicekam

ketakutan. Sepanjang hari ia merasa was-was dan

pekerjaannya kacau. Pemilik restoran semakin menyadari

keanehan pada pekerjanya itu karena selama hampir

seminggu, pemuda ini terus-menerus terlihat aneh,

terutama saat tamunya datang. Pemilik restoran

memanggilnya dan bertanya apa yang terjadi. Pada

mulanya pemuda ini takut dan ragu-ragu menceritakan

kesalahannya, namun akhirnya ia pun bercerita, dengan

resiko, ia pun pasti akan dikeluarkan karena ia adalah

seorang yang pernah melakukan pencurian. Namun apa

yang terjadi, pemilik restoran menghargai kejujuran

pemuda ini dan menasehatinya supaya ia membereskan

perkaranya dengan pemilik toko supaya ia tidak

kehilangan damai sejahtera, meskipun pengakuannya itu

beresiko. Akhirnya saat pemilik toko datang lagi ke

restoran itu untuk membahas masalah bisnis antara

mereka berdua, pemilik restoran memanggil pemuda itu

dan memperhadapkannya dengan pemilik toko untuk

membereskan perkaranya. Setelah pemuda ini mengaku, ia

menanti reaksi dari pemilik toko yang mungkin saja

akan melaporkannya ke pihak berwajib karena

kesalahannya. Namun ternyata tidak demikian. Pemilik

toko ini telah mengetahui dari dulu bahwa pemuda ini

memang mencuri, namun ia tidak melaporkannya ke polisi

karena ia kasihan melihat pemuda ini. Dengan kejujuran

pemuda ini untuk mengaku bersalah dan mau memulai

kehidupan baru yang baik dan tak menglangi

kesalahannya lagi, pemilik toko itu memaafkannya.

Sekarang pemuda ini tetap bekerja di restoran dan tak

lagi ketakutan saat pemilik toko yang ternyata adalah

rekan bisnis pemilik restoran datang. Ia bisa

bersukacita kembali dalam bekerja dan pekerjaannya pun

bisa dikerjakannya dengan sangat baik.

Seseorang yang berdosa pasti merasa ketakutan karena

dosa dan kesalahan yang ia lakukan. Setiap kita pasti

pernah berbuat dosa dan kita merasa tidak layak di

hadapan Tuhan. Ini membuat kita sulit untuk memiliki

hati yang damai. Meninggalkan kehidupan dosa dan

BERBALIK datang kepada Tuhan, merupakan pintu pembuka

menuju hidup penuh SUKACITA sejati.

Amsal 28:1 berkata, "Orang fasik lari, walaupun tidak

ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman

seperti singa muda." Maka, sebagai langkah awal supaya

kita bisa hidup dalam sukacita, marilah kita berbalik

dari dosa kita dan menjadi seorang yang baru di dalam

Tuhan.

0 komentar:

Posting Komentar

Translate this Blog

Powered By google