Yohanes 15: 1 - 17
Seorang pemuda yang bekerja di sebuah toko besar
memutuskan untuk pindah ke luar kota karena perbuatan
buruknya mulai tercium oleh beberapa staf yang bekerja
disana. Ia sering sekali mencuri beberapa barang yang
terluput dari perhatian para penjaga. Sebelum ia
dipanggil oleh pemilik toko dan harus
mempertanggungjawabkan perbuatannya, ia lari ke luar
kota dan mencari pekerjaan yang baru disana. Ia
mendapatkan sebuah pekerjaan di restoran. Tiga bulan
lamanya, ia bekerja dengan baik. Pengalaman mencuri
yang membuat ia harus melepaskan pekerjaannya membuat
ia tidak lagi mengulanginya. Ia menguatkan hati untuk
memulai kehidupan yang lebih baik di kota itu. Suatu
ketika, saat ia sedang melayani tamu-tamu restoran, ia
melihat bahwa salah satu tamu yang datang adalah sang
pemilik toko dimana ia pernah bekerja. Segera saja
pemuda ini lari ke belakang restoran supaya tamu yang
baru saja datang itu tak melihatnya. Saat itu restoran
sedang sangat ramai dan semua pekerja sangat sibuk.
Melihat pemuda itu di belakang, salah seorang koki
memintanya untuk mengantarkan makanan untuk tamu-tamu
di depan. Pemuda ini tidak berani keluar. Ia membuat
jengkel para koki karena ia tidak mau mengantarkan
makanan ke meja tamu. Dua jam lamanya ia bersembunyi
dari keramaian. Setelah ia pikir pemilik toko dimana
ia pernah bekerja itu sudah pulang, ia kembali
melakukan aktivitasnya seperti biasa. Pekerjaannya
menjadi tidak beres pada hari itu. Ternyata hari
berikutnya, pemilik toko tempat ia bekerja dahulu itu
datang lagi dan menemui pemilik restoran. Pemuda ini
berpikir, "Jangan-jangan ia datang untuk bertanya
tentang diriku..." Pemuda ini kembali dicekam
ketakutan. Sepanjang hari ia merasa was-was dan
pekerjaannya kacau. Pemilik restoran semakin menyadari
keanehan pada pekerjanya itu karena selama hampir
seminggu, pemuda ini terus-menerus terlihat aneh,
terutama saat tamunya datang. Pemilik restoran
memanggilnya dan bertanya apa yang terjadi. Pada
mulanya pemuda ini takut dan ragu-ragu menceritakan
kesalahannya, namun akhirnya ia pun bercerita, dengan
resiko, ia pun pasti akan dikeluarkan karena ia adalah
seorang yang pernah melakukan pencurian. Namun apa
yang terjadi, pemilik restoran menghargai kejujuran
pemuda ini dan menasehatinya supaya ia membereskan
perkaranya dengan pemilik toko supaya ia tidak
kehilangan damai sejahtera, meskipun pengakuannya itu
beresiko. Akhirnya saat pemilik toko datang lagi ke
restoran itu untuk membahas masalah bisnis antara
mereka berdua, pemilik restoran memanggil pemuda itu
dan memperhadapkannya dengan pemilik toko untuk
membereskan perkaranya. Setelah pemuda ini mengaku, ia
menanti reaksi dari pemilik toko yang mungkin saja
akan melaporkannya ke pihak berwajib karena
kesalahannya. Namun ternyata tidak demikian. Pemilik
toko ini telah mengetahui dari dulu bahwa pemuda ini
memang mencuri, namun ia tidak melaporkannya ke polisi
karena ia kasihan melihat pemuda ini. Dengan kejujuran
pemuda ini untuk mengaku bersalah dan mau memulai
kehidupan baru yang baik dan tak menglangi
kesalahannya lagi, pemilik toko itu memaafkannya.
Sekarang pemuda ini tetap bekerja di restoran dan tak
lagi ketakutan saat pemilik toko yang ternyata adalah
rekan bisnis pemilik restoran datang. Ia bisa
bersukacita kembali dalam bekerja dan pekerjaannya pun
bisa dikerjakannya dengan sangat baik.
Seseorang yang berdosa pasti merasa ketakutan karena
dosa dan kesalahan yang ia lakukan. Setiap kita pasti
pernah berbuat dosa dan kita merasa tidak layak di
hadapan Tuhan. Ini membuat kita sulit untuk memiliki
hati yang damai. Meninggalkan kehidupan dosa dan
BERBALIK datang kepada Tuhan, merupakan pintu pembuka
menuju hidup penuh SUKACITA sejati.
Amsal 28:1 berkata, "Orang fasik lari, walaupun tidak
ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman
seperti singa muda." Maka, sebagai langkah awal supaya
kita bisa hidup dalam sukacita, marilah kita berbalik
dari dosa kita dan menjadi seorang yang baru di dalam
Tuhan.
Minggu, 31 Oktober 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar